Apa Dampak Child Grooming bagi Tumbuh Kembang Anak?


RSI.com - Kasus child grooming kembali mencuat dan viral di berbagai platform media sosial dalam beberapa waktu terakhir. Hal ini membuat keresahan sekaligus membuka mata banyak pihak tentang bahaya yang mengintai anak-anak.


Di balik sorotan publik tersebut, terdapat dampak jangka panjang yang sering kali luput dibahas, yakni bagaimana child grooming dapat mempengaruhi proses tumbuh kembang anak secara menyeluruh.


Tidak hanya meninggalkan trauma psikologis, praktik manipulatif ini juga berpotensi mengganggu perkembangan emosi, sosial, hingga kepercayaan diri anak. 


Oleh karena itu, memahami dampak child grooming terhadap tumbuh kembang anak menjadi hal krusial, agar orang tua dan masyarakat dapat lebih waspada serta berperan aktif dalam menciptakan lingkungan yang aman bagi anak, baik di dunia nyata maupun ruang digital.


Lalu apa saja dampak bahayanya dari child grooming terhadap tumbuh kembang anak?


Anak yang menjadi korban child grooming kerap terdorong untuk menuruti keinginan pelaku demi mempertahankan kedekatan emosional yang telah terbangun.


Dalam kondisi ini, anak sering kali tidak menyadari bahwa dirinya sedang dimanipulasi. Jika dibiarkan berlarut-larut, situasi tersebut dapat memunculkan berbagai dampak negatif yang mempengaruhi kesehatan fisik maupun kondisi psikologis anak.


Beberapa dampak yang umum dialami korban child grooming antara lain:


Anak mengalami gangguan tidur, seperti sulit terlelap atau sering terbangun di malam hari.

Konsentrasi belajar menurun sehingga prestasi akademik di sekolah ikut terdampak.

Anak kehilangan rasa percaya diri dan merasa tidak berharga, karena pelaku kerap menanamkan rasa bersalah atau membuat anak merasa dirinya pantas diperlakukan demikian.

Muncul perasaan takut, malu, dan bersalah yang berlebihan, sehingga anak enggan meminta pertolongan atau menceritakan apa yang dialaminya.

Anak mengalami kebingungan dalam memahami batasan hubungan yang sehat, terutama antara anak dan orang dewasa.

Terjadi gangguan perkembangan emosi, di mana anak kesulitan mengelola perasaan dan bereaksi secara wajar terhadap situasi tertentu.

Anak menjadi mudah curiga terhadap orang lain dan kesulitan membangun hubungan sosial yang sehat di kemudian hari.

Muncul gangguan kecemasan, perasaan tertekan, hingga depresi yang berkepanjangan.

Terjadi perubahan pola makan, seperti kehilangan nafsu makan atau justru makan secara berlebihan.

Anak berisiko mengalami gangguan stres pascatrauma (post-traumatic stress disorder/PTSD) akibat tekanan emosional yang dialami.

Apabila grooming berujung pada kekerasan seksual, korban juga menghadapi risiko tertular penyakit menular seksual yang membahayakan kesehatan jangka panjang.

Selain dampak tersebut, banyak korban child grooming menunjukkan perubahan perilaku yang cukup signifikan. Anak bisa menjadi lebih tertutup, enggan berbagi cerita dengan orang tua, atau menunjukkan sikap mudah marah dan sensitif, terutama ketika dilarang untuk memenuhi keinginan pelaku.


Oleh karena itu, kewaspadaan dan peran aktif orang tua serta lingkungan sekitar sangat dibutuhkan untuk mencegah dampak yang lebih serius.


Sumber: beritanasional.com