Etika Penggunaan AI di Pendidikan, Mahasiswa Diingatkan Soal Pentingnya Etika, Privasi Data, dan Pengawasan


RSI.com - PERKEMBANGAN kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kini membuka peluang besar bagi dunia pendidikan. Teknologi ini mampu membantu mahasiswa dalam mencari referensi, menganalisis data, hingga mengembangkan aplikasi secara lebih efisien.


Temukan lebih banyak

Namun, di balik kemudahan tersebut, penggunaan AI harus dibarengi dengan pemahaman etika yang kuat. Hal ini ditegaskan Hafidlotul Fatimah Ahmad, S.Kom., M.Kom., dosen Sekolah Sains Data, Matematika, dan Informatika IPB University.


Dua Aspek Krusial: Pengawasan dan Privasi

Menurut Fatimah, terdapat dua aspek etika yang sering kali diabaikan oleh pengguna AI, yaitu human oversight (pengawasan manusia) dan data privacy (privasi data).


Ia menjelaskan bahwa AI generatif, seperti ChatGPT dan Gemini, bekerja dengan memprediksi kata berikutnya berdasarkan pola data yang telah dipelajari sebelumnya.


"Hasilnya tidak selalu benar dan perlu diperiksa kembali. Tidak bisa kita menjadikan AI ini satu-satunya sumber kebenaran," ujar Fatimah.


Ia mengingatkan mahasiswa agar tidak menelan mentah-mentah jawaban AI, terutama terkait referensi atau tautan artikel ilmiah yang sering kali tidak valid atau fiktif.


Selain verifikasi informasi, perlindungan data pribadi menjadi poin penting lainnya. Mahasiswa diimbau untuk tidak memasukkan data sensitif ke dalam layanan AI. Berikut adalah poin-poin utama yang perlu diperhatikan pengguna terkait keamanan dan validitas data:



Alat Bantu, Bukan Pengganti Nalar


Fatimah menekankan bahwa AI seharusnya diposisikan sebagai alat bantu untuk mencari ide, melakukan brainstorming, atau membuat latihan soal. Mengandalkan AI sepenuhnya tanpa proses berpikir sendiri dapat melanggar integritas akademik.


Kendati demikian, ia menilai kehadiran AI tidak akan melemahkan kemampuan manusia jika disikapi dengan bijak. Mahasiswa justru ditantang untuk meningkatkan keterampilan analisis dan penalaran, sementara tugas-tugas yang bersifat repetitif dapat didelegasikan kepada teknologi.


Sebagai penutup, Fatimah berpesan agar mahasiswa tetap memegang kendali penuh atas teknologi yang mereka gunakan.


"Pesan saya simpel, ingat bahwa tugas yang teman-teman kumpulkan itu membawa nama teman-teman, bukan nama AI," pungkasnya.

 

Sumber: mediaindonesia.com