Begini Cara Para Ulama Membaca Buku



RSI.com - JAKARTA—Wakil Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Wilayah DKI Jakarta, Nur Fajri Romadhon memaparkan cara para ulama membaca buku. Paparan itu ia sampaikan dalam agenda kajian yang diselenggarakan KADAR bersama Penerbit Irfani pada Kamis (30/03).


Dalam pemaparannya, Nur Fajri Romadhon mengulas secara mendalam bagaimana tradisi membaca para ulama Islam tidak hanya membentuk keilmuan personal, tetapi juga berkontribusi besar terhadap pembangunan peradaban dunia.


Nur Fajri menegaskan bahwa metode membaca dalam Islam bersifat ijtihadi, yakni terbuka terhadap berbagai pendekatan dan tidak bersifat tauqifi. Artinya, tidak ada satu cara tunggal yang mutlak, meskipun jejak para ulama tetap penting dijadikan rujukan.


Mengacu pada pemikiran Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah, Nur Fajri menekankan pentingnya metode bertahap (tadarruj) dalam membaca. Ia menjelaskan bahwa pembelajar tidak seharusnya langsung mengakses kitab-kitab besar dan kompleks tanpa fondasi dasar.


Membaca harus dimulai dari buku-buku ringkas untuk memperoleh gambaran umum (grand scheme), kemudian meningkat ke tingkat yang lebih detail. Tanpa tahapan ini, seseorang berisiko kehilangan pemahaman menyeluruh dan justru tidak menyelesaikan bacaan yang terlalu berat sejak awal.


Selain itu, Nur Fajri mengingatkan bahaya menjadi “katak dalam tempurung” dalam dunia keilmuan. Spesialisasi memang penting, namun tidak boleh menutup diri dari disiplin ilmu lain. Ia mencontohkan bagaimana ulama klasik seperti Ibnu Muflih tetap memiliki keluasan wawasan lintas bidang, meskipun memiliki keahlian utama tertentu. Hal ini dinilai penting karena realitas kehidupan seringkali menuntut pendekatan multidisipliner.


Dalam aspek metode belajar, Nur Fajri juga menggarisbawahi pentingnya keseimbangan antara belajar dari guru dan membaca buku. Mengutip kembali pandangan Ibnu Khaldun, ia menyatakan bahwa belajar dari guru merupakan fondasi utama, terutama di tahap awal. Namun seiring perkembangan intelektual, porsi membaca mandiri akan semakin dominan.


“Bahkan, pada level tertentu, membaca menjadi aktivitas yang lebih intens dibandingkan menghadiri majelis ilmu,” kata Nur Fajri.


Menariknya, ia juga menyoroti dimensi emosional dalam membaca. Mengutip pandangan Al-Jahiz dalam Kitab al-Hayawan, ia menyebut bahwa kecintaan terhadap buku seharusnya mampu menandingi atau bahkan melampaui kesenangan orang terhadap hiburan duniawi.


“Membeli buku bukan sekadar aktivitas konsumtif, tetapi bagian dari investasi intelektual,” ujar Nur Fajri.


Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa esensi ilmu bukan terletak pada banyaknya buku yang dimiliki, melainkan pada pemahaman dan internalisasi isi buku tersebut. Pandangan ini sejalan dengan nasihat Ibnu Jama’ah yang menekankan pentingnya membaca secara sistematis, dimulai dari daftar isi, pengantar, hingga kesimpulan sebelum mendalami keseluruhan isi buku.


Dalam praktiknya, para ulama juga memiliki adab tinggi terhadap buku. Mereka tidak memperlakukan buku secara sembarangan seperti tidak melipat halaman, tidak menjadikannya alas atau bantal, serta menjaga fisiknya dengan baik. Bahkan dalam kondisi sakit sekalipun, tokoh seperti Ibnu Taimiyah tetap membaca karena meyakini bahwa kebahagiaan jiwa melalui ilmu dapat membantu proses penyembuhan.


Paparan tersebut juga mengulas teknik membaca seperti skimming (membaca cepat untuk gambaran umum) dan scanning (mencari informasi spesifik), yang dalam tradisi ulama dikenal dengan istilah jard dan fahsh. Namun, teknik ini hanya efektif bagi pembaca yang telah mencapai tingkat keilmuan tertentu.


Di akhir pemaparannya, Nur Fajri menyoroti metode belajar tingkat lanjut yang menggabungkan membaca dan menulis secara simultan. Ia mencontohkan ulama besar seperti Imam Nawawi yang menjadikan aktivitas menulis sebagai sarana memperdalam ilmu. Tradisi ini juga terlihat pada ulama Nusantara seperti Tengku Hasbi Ash-Shiddieqy yang produktif menulis dari hasil pembacaan intensifnya.


Sebagai penutup, ia mengutip pandangan Al-Muzani yang menyatakan bahwa membaca satu buku berulang kali jauh lebih bernilai dibandingkan membaca banyak buku tanpa pendalaman.


“Prinsip ini menegaskan bahwa kualitas interaksi dengan buku lebih penting daripada kuantitas bacaan,” tutur Nur Fajri.


Sumber: muhammadiyah.or.id