Kementerian UMKM Perkuat Ekosistem Usaha Nasional Lewat Perluasan Program Holding


RSI.com - Jakarta - Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) berencana memperluas program Holding UMKM pada tahun 2026. Program ini dirancang untuk mempererat kerja sama antar pelaku usaha dan memperkuat rantai pasok agar bisnis lokal semakin tangguh dan berkelanjutan.


Deputi Bidang Usaha Menengah Kementerian UMKM, Bagus Rachman, mengungkapkan bahwa tahun ini pihaknya akan menggarap setidaknya lima klaster usaha baru, yaitu sepak bola, pariwisata, pertanian, makan bergizi gratis, serta kesehatan dan kecantikan.


“Klaster sepak bola sudah lebih dulu berjalan. Pada awal Desember 2025, telah ditandatangani nota kesepahaman bersama Kementerian Pemuda dan Olahraga serta Kementerian Dalam Negeri. Ke depan, program ini akan merambah cabang olahraga lainnya,” jelas Bagus.


Selama 2025, program Holding UMKM sudah berjalan di tiga klaster, yakni fesyen, kriya, serta kelautan dan perikanan. Hasilnya cukup menggembirakan — sebanyak 600 pemindang ikan bergabung di klaster kelautan dan perikanan, 550 pengrajin dan reseller di klaster fesyen, serta 150 pengrajin di klaster kriya.


Melalui program ini, usaha menengah diposisikan sebagai penghubung utama bagi usaha mikro dan kecil di sekitarnya. Dengan begitu, pelaku usaha kecil bisa mendapat manfaat nyata, mulai dari kemudahan akses modal, pendampingan usaha, hingga pasar yang lebih luas.


“Kami ingin usaha menengah menjadi lokomotif yang menarik gerbong usaha kecil dan mikro di sekitarnya. Masalah seperti keterbatasan modal, kualitas produk yang belum standar, hingga sulitnya masuk ke rantai pasok besar bisa diselesaikan bersama-sama,” kata Bagus.


Tak hanya itu, Kementerian UMKM juga akan menghadirkan skema pembiayaan yang lebih inovatif dan terstruktur bagi usaha menengah. Pada 2025 lalu, sebanyak 56 usaha menengah telah berhasil mengakses skema ini melalui kerja sama dengan berbagai lembaga keuangan, termasuk bank-bank Himbara, Pegadaian, Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia, dan sejumlah BUMN.


Program unggulan lainnya, Rise to IPO, juga akan kembali digelar pada 2026 di tiga kota, yaitu Surabaya, Bandung, dan Makassar. Program ini membuka jalan bagi pelaku usaha menengah untuk go public atau melantai di bursa saham. Tahun sebelumnya, program serupa telah dijalankan di Jakarta dan Semarang, dengan 128 perusahaan yang berhasil lolos kurasi dan mengikuti rangkaian seminar.


Rise to IPO dinilai menjadi batu loncatan penting bagi pengusaha yang ingin membawa bisnisnya ke level berikutnya — dari perusahaan tertutup menjadi perusahaan terbuka yang lebih profesional, transparan, dan berdaya saing tinggi. 


Sumber: beritakoperasi.com