Perkuat Rupiah, Pemerintah Pacu Transaksi Mata Uang Lokal untuk Perdagangan Internasional
RSI.com - Pemerintah Indonesia terus mendorong optimalisasi penggunaan Local Currency Transaction (LCT) atau transaksi mata uang lokal dalam kerja sama keuangan multilateral.
Langkah ini diambil guna mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS sekaligus memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah di tengah dinamika ekonomi global.
Potensi penguatan ini didukung oleh struktur perdagangan Indonesia yang kokoh. Hingga Februari 2026, Indonesia mencatat surplus perdagangan USD1,27 miliar yang didominasi oleh komoditas nonmigas seperti batu bara, minyak sawit, serta besi dan baja.
Menariknya, mayoritas mitra dagang utama Indonesia berasal dari negara dengan ekonomi nondolar.
Dalam agenda "Bank of China Multilateral Business Dialogue" di Jakarta, Jumat (10/4/2026), Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan dan Pengembangan Usaha BUMN Kemenko Perekonomian Ferry Irawan menegaskan pentingnya kolaborasi ini.
“Bank Indonesia dan Pemerintah Indonesia telah bersama-sama memajukan kerangka LCT untuk mendiversifikasi pembayaran bilateral, meningkatkan efisiensi pasar, memperdalam pasar keuangan, dan pada akhirnya mengurangi volatilitas nilai tukar sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi,” ujar Ferry Irawan melalui siaran persnya .
Lonjakan Transaksi dan Partisipasi Pasar
Data menunjukkan pertumbuhan penggunaan LCT yang sangat signifikan. Pada periode Januari–Februari 2026, nilai transaksi LCT menyentuh angka USD8,45 miliar. Angka ini melonjak tajam dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang hanya sebesar USD3,21 miliar.
Peningkatan ini juga diikuti oleh jumlah pengguna yang kini rata-rata mencapai 16.030 pengguna per bulan, jauh melampaui rata-rata bulanan tahun 2025 yang hanya 9.720 pengguna.
“Transaksi LCT telah menunjukkan tren peningkatan yang konsisten dalam nilai, partisipasi, dan adopsi pasar,” jelas Deputi Ferry.
Hingga saat ini, Indonesia telah menerapkan kerangka LCT dengan enam negara mitra strategis, yaitu:
Malaysia
Thailand
Jepang
Tiongkok
Korea Selatan
Uni Emirat Arab
Pemanfaatan LCT kini telah meluas ke berbagai sektor produktif, mulai dari manufaktur, listrik, gas, transportasi, hingga jasa. Untuk mempercepat adopsi ini, pemerintah juga telah membentuk Gugus Tugas LCT Nasional yang melibatkan 10 kementerian dan lembaga.
Membangun Ekosistem Ekonomi Tangguh
Pemerintah berkomitmen untuk memberikan berbagai kemudahan bagi pelaku usaha, termasuk pemberian insentif dan penyederhanaan proses transaksi ekspor-impor. Hal ini diharapkan dapat menekan biaya transaksi dan meningkatkan efisiensi bisnis internasional.
Sebagai penutup, Ferry menekankan bahwa pengembangan LCT adalah strategi nyata untuk mengurangi kerentanan terhadap faktor eksternal.
“Pengembangan LCT merupakan langkah konkret dan strategis menuju peningkatan efisiensi, pengurangan kerentanan eksternal, dan penguatan kerja sama keuangan multilateral. Melalui kolaborasi berkelanjutan antara Pemerintah, lembaga keuangan, dan pelaku bisnis, kita dapat membangun ekosistem ekonomi yang lebih tangguh, terintegrasi, dan berkelanjutan,” tandasnya.
Sumber: beritanasional.com
